Minggu, 01 September 2013

Pelangi ini abu-abu


Senja,  pada pukul lima dua puluh lima menit.

Aku terduduk dalam diam di sebuah cafe yang lumayan tenang. Menatap langit sambil sesekali minum kopi atau minum kopi sambil sesekali menatap langit—entahlah. Langit kali ini—seharusnya—sangat indah, guratan warna pelangi seperti mahkota menghiasi langit yang cerah ini. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Berpadu menjadi abu-abu dalam penglihatanku—semu.

Pelangi ini mengingatkanku pada dia yang sangat aku sayangi dalam suatu hubungan yang begitu indah. Sering, beberapa orang menganggap aku bermimpi tentang bagaimana aku memiliki hubungan seindah ini—dulu. Semua berjalan indah. Berbagi apa saja yang bisa kami bagi, entah bahagia pun duka. 

Aku buka kembali beberapa album dalam telepon genggamku, bukti kami benar-benar sebahagia itu. Tertawa penuh bahagia, dalam sorot mata penuh percaya, juga janji—bahwa kita akan tetap seperti ini. Beberapa orang pernah mengatakan, kami terpilih, karna Sang Pencipta begitu baik mempertemukan dua hati yang benar-benar tulus menjalin hubungan seperti ini. Pun mereka katakan kami perlu hati-hati jika kelak jarak menjauhi. Tak ada perkataan mereka yang aku dengar—kala itu. 

Aku yakin betul kami akan selalu mengasihi, berbagi cinta dengan sepenuh hati—tanpa pamrih. Selain kami berdua, beberapa orang pun masuk dalam lingkaran ini. Aku menjadi sangat yakin hubungan ini begitu mudah dijalani, semua akan terus baik-baik saja. Sampai kemudian aku menyadari, ada yang salah dalam hubungan ini. Beberapa kali aku memperingati kelak hubungan ini akan menjadi abu-abu, tak lagi berpelangi—tak ia hiraukan. 

Perlahan namun pasti, tujuh warna pelangi memudar, menjadi satu yaitu abu-abu—seperti kami. Kini kami memilih jalan sendiri-sendiri, jalan yang—untukku—begitu berbahaya untuk dilalui sendiri. Namun, aku sudah terlanjur sendiri. Kami, terpisah oleh sesuatu yang dulu sudah pernah mereka peringati, jarak—walau bukan dalam arti yang sebenarnya.

Jarak itu sudah begitu jauh untuk akhirnya kami kembali. Kami—aku entah ia pun rasakan juga—sudah tidak lagi mungkin kembali. Jarak memisah-paksa-kan kami. Aku bahkan tidak bisa lagi melihat senyum cerianya, mendengar suara gaduhnya, merasakan hangat hatinya. 

Beberapa kali kami berada dalam satu lokasi, namun hati sudah begitu membeku untuk sekedar saling menghangatkan. Kami tersenyum getir. Aku, bukan tidak ingin memperbaiki, namun aku tak mau ia tersakiti bila ia tau sesakit ini untukku—tanpanya. 

Seseorang begitu sangat baik membantukku memperbaiki, namun semua sia-sia, karena justru kami—aku dan seseorang ini—saling melukai. Aku gemetar hebat, kala itu, membaca pesan yang ia tuliskan. Aku terkhianati, ia tersakiti. 

Air mata pun mengalir sederas-derasnya, melihat tak ada lagi namaku dalam sinar wajahnya—semoga tidak dalam hatinya. Jika ada yang ingin aku miliki sekarang ini, hanya abu-abu ini kembali menjadi pelangi. Masih banyak mimpi yang belum terealisasi atas nama kami. Semoga kelak kami masih menjadi orang terpilih hingga hubungan ini dapat kembali. Bersama kembali, berbagi kasih tanpa pamrih. Satu sama lain menjadi pilar untuk bersandar ketika letih. Ya, semoga, kelak, suatu saat nanti.


Semoga ini menjadi bukti, bahwa aku masih begitu menyayangi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template