Jumat, 31 Desember 2021

Teruntuk Yang Hadir di Duaribuduasatu

0 komentar

Dua ribu dua puluh satu,

Jika kembali mengingat apa-apa yang telah terjadi dalam satu tahun ini, rasanya tak bisa dipisahkan dari mereka-mereka yang juga hadir mengambil bagian peran dalam ceritaku tahun ini. Maka, tulisan kali ini adalah untuk mereka...

Teruntuk kamu bagian cerita di awal tahun...

Rasanya kamu tau bagaimana yang aku rasakan atas kehadiran dan juga kepergianmu yang selalu tiba-tiba dalam cerita hidupku. Kepergianmu memang meninggalkan luka baru yang sampai hari ini belum juga berani aku obati, namun anehnya, kehadiranmu kala itu sungguh aku syukuri sampai hari ini. Aku memang pernah begitu marah atas apa yang terjadi, namun setelah kutelaah, ternyata aku berhutang pada genggam tangan yang kerap menemaniku, saat pulang tak jadi hal yang menyenangkan. Dan kini sama seperti apa yang kamu harapkan untukku pada perpisahan kita, aku pun berharap terjadi padamu; kamu mendapatkan seseorang yang menjadikanmu layak untuk mempertahankan.

Teruntuk kalian yang sudah ada sejak sepuluh tahun lalu...

Kalian ngerasain juga gak sih kalau tahun ini group chat kita lebih senyap dibanding sebelumnya? Kadang gue ingin memulai bercerita hal-hal random atau sekedar keluh yang gue rasain, tapi urung gue lakukan karena kemudian overthinking ini menyerang, memikirkan bisa jadi chat gue saat itu mengganggu waktu quality time dengan keluarga kecil kalian. Ya meski tentu gue tau gak pernah sedikitpun kalian berpikir seperti itu. Namun rasanya, perbedaan status dengan kalian membuat gue seakan tertinggal meski gue sungguh-sungguh berbahagia atas apapun kebahagiaan yang kalian rasakan. Maafkan ya jika chat dari gue jarang muncul pada pop up handphone kalian. Tapi percayalah, doa baik untuk kalian dan malaikat-malaikat kecil kalian tak pernah putus gue langitkan. 

Teruntuk satu-satunya partner jajan...

Udah mau lima tahun ya dengar ajakan jajan yang hampir tiap hari itu? Jangan bosen ya, karena tahun depan ajakan itu masih akan tetap sering terdengar. Kayaknya tanpa adanya tulisan ini, hampir semua yang berteman online sama gue, udah tau how lucky i am, how grateful i am, punya partner kayak lo yang meski kadang ngegasnya bikin gue takut ada kebakaran, tapi selalu bisa jadi orang yang diandalkan. Kalau ada orang lain yang bikin lo sakit kepala, tolong bilang ke gue, biar gue seruduk karena kan cuma gue yang boleh bikin lo sakit kepala hehe

Teruntuk teman-teman lain yang selalu menjawab "ayo" saat aku ajak pergi...

Terima kasih ya sudah mau menyisihkan uang yang sudah kalian cari capek-capek itu untuk dihabiskan bersama. Selain aku berdoa supaya "ayo" masih jadi jawaban setiap ajakanku, aku juga selalu berdoa semoga uang yang sudah kita habiskan, kelak datang kembali membawa banyak temannya menuju rekening-rekening yang kita punya.

Teruntuk orang-orang baik yang pernah aku kecewakan...

Aku gak punya kata-kata lagi selain maaf dan terima kasih karena sudah mengerti. Semoga kecewa yang dirasakan karenaku, kelak menjadi jalan menuju kebahagiaan lain.

Teruntuk kamu yang namanya masih mama sebut di setiap doa…

Itu hati ataukah batu? Mengapa susah sekali dipecahkan meski dengan senjata paling mutakhir sejak ribuan tahun lalu, yaitu doa ibu? Sudah sejak lama namamu tidak lagi menjadi penghias doaku, tapi apakah kamu tau bahwa baru saja aku mendengar pengakuan ibuku bahwa nama lengkapmu masih terus ia langitkan. Sungguh… jika saja kamu tau seberapa beruntungnya dirimu, aku yakin sesal kan datang padamu yang tak mengindahkanku. Tunggu di situ, karena akan kembali kurengek Tuhan sekali lagi dengan doa yang sama seperti yang selalu beliau langitkan. Kali ini kurasa Tuhan bisa luluh untuk menyertakan namaku dalam inginmu.

Kamis, 23 Desember 2021

Sepi

0 komentar
Ku tarik satu kursi ke sudut ruangan ini, ku arahkan ke jendela yang meniupkan semilir angin. Ku sandarkan punggungku yang sebentar-sebentar sakit ini, renta sekali. Di luar jendela terlihat lalu lalang beberapa orang dan kendaraan yang silih berganti. Terdengar pula dentingan nyaring piring yang dibunyikan abang rujak keliling. Disauti dengan lantang suara toa dari abang tahu bulat yang juga menjual sotong.

Ramai sekali suasana di luar sana, seakan tidak memperdulikan hampa yang lama sudah ku rasa. Tak perlu kalian bersedih, aku sejak lama berteman dengan sepi, sudah sungguh-sungguh terlatih. Bahkan rasanya aku mulai menyukai hidupku yang cenderung datar ini. Biarlah, setidaknya aku tak perlu lagi pusing mencari “bagaimana agar mata tidak terlihat bengkak setelah menangis” pada tab browser di malam hari. Meski sesekali aku rindu mendengar temanku menyapa “kenapa? berantem lagi?” di ujung saluran telepon tiap ia menerima panggilan dariku dini hari.

Kembali aku perhatikan suasana di luar, semua terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak saling memperhatikan apalagi peduli. Sepertinya benar kata tetangga, kita tak jauh hanyalah figuran untuk orang lain. Yang acap kali tak terlihat meski lalu lalang berkali-kali. Yang sering kali tak terdengar meski lantang bersuara. Yang selalu jadi opsi dan tak pernah terpilih.

Selasa, 21 Desember 2021

10 sebelum 22

0 komentar
Aku masih terjaga saat sisa hari kembali berkurang di tahun ini. Pergantiannya ku lewati masih dengan keluh yang tak berubah, lelah yang sama. Berlama-lama aku terdiam pada sajadah yang ku gelar sejak tadi, tanpa satu pun pinta yang ku langitkan. Hanya tatapan kosong dengan kepala yang isinya berantakan.

Dalam hening pergantian hari, ku rasakan ramai otak dan hati saling bekelahi. Sungguh… aku ingin membungkam semuanya untuk diam. Namun tak dapat ku lakukan dengan raga yang tak lagi bertenaga. Biarlah aku ikuti siapa yang kelak berkuasa.

“Jadi bagaimana?” ku tengahi perkelahian yang semakin menguras energiku ini.

Otakku mengalah kali ini, membiarkan hatiku memecahkan satu tangis malam ini.

Rabu, 15 Desember 2021

Still Untitled

0 komentar
Beberapa hari belakangan ini, isi kepalaku terasa penuh sekali. Entah berapa banyak ku dengar suara bersautan silih berganti, beberapa membawaku pada memori yang tak seharusnya ku ingat kembali. Dan di sini lah aku sekarang, menatapi media sosialmu yang beberapa bulan terakhir ini sudah tak pernah lagi ku kunjungi.

Membuka satu unggahan terakhirmu, terlihat wajah yang rasanya asing tapi tak asing di kepalaku. Aku sungguh masih ingat jelas raut wajahmu, namun garis sumringah senyummu saat ini tak ada dalam ingatanku. Berusaha aku cari kembali kenangan yang sudah aku buang jauh-jauh, rasanya aku memberimu setumpuk bahagia, namun mengapa tak pernah ku ingat senyum sumringahmu seperti saat ini?

Sebahagia itu kah kamu dengan hidupmu? Yang tanpa ku.

Semenyenangkan itu kah hari-harimu? Usai kepergian ku.

Sementara aku terjatuh berkali-kali menyeimbangkan hidupku tanpa mu. 

Sementara aku masih merasakan perih pada luka yang kamu beri di kepergian mu.
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template