Senin, 08 Maret 2021

A Month After Breakup

0 komentar
“Aku boleh dipeluk dulu gak?” Tanyaku saat ia sedang bersiap untuk pulang. Tanpa menjawab apapun ia membalas pelukanku. 

“Kita kapan lagi ketemu?” Tanyaku kembali.

“Minggu depan, ya.” Jawabnya tanpa keraguan. 

Aku melepaskan pelukanku untuk membiarkannya pulang karena malam sudah semakin larut. Nope, aku tidak pernah meminta pelukan darinya sebelum-sebelumnya. Ini adalah permintaan pertamaku yang ternyata benar-benar menjadi peluk perpisahan kami. 

Aku tidak pernah mengira bahwa dalam waktu semalam, semua bisa begitu drastis berubah. Aku tidak pernah mengira bahwa rasa kami bisa begitu cepat menguap. Aku tidak pernah membayangkan bahwa tidak ada lagi sapa pagi darimu untuk esok hari. 

A month after breakup, 
Kamu tau apa yang menyedihkan? Bahwa aku masih terbangun dengan ingatan hangat pelukmu.

A month after breakup, 
Kamu tau apa yang menyakitkan? Bahwa aku tidak sempat menghapus ingatan kita akan bertemu di minggu selanjutnya.

A month after breakup,
Kamu tau apa yang begitu aku harapkan? Bukan, bukan kenyataan bahwa aku dan kamu dapat kembali menjadi kita. Tapi kesempatan untukku mempersiapkan perpisahan ini. Aku bahkan tidak sempat untuk mengganti ingatan terakhirku tentangmu. Aku bahkan tidak sempat untuk menghapus harapku kepadamu.

A month after breakup,
Kamu tau apa yang menyebalkan? Bahwa aku tidak dapat meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu. 

Rabu, 07 Oktober 2020

Day 24; Melepaskan

0 komentar
Hari keduapuluh empat #30DaysWritingChallenge, tema tulisan hari ini adalah “a lesson you’ve learned.” 

Sebenarnya di tengah pandemi gini, banyak banget pelajaran yang bisa dijadikan pelajaran seperti sabar, ikhlas, bertahan, berjuang dan melepaskan. Dari semua itu, yang terakhir adalah “kelas” yang baru saja selesai saya ambil.

Bagaimana ternyata melepaskan tidak pernah semudah yang dikatakan orang. Bagaimana ternyata melepaskan juga tidak pernah sesulit yang saya bayangkan. Bagaimana ternyata melepaskan bisa jadi satu penyebab luka dan trauma. Bagaimana ternyata melepaskan bisa jadi satu cara menyambut kebahagiaan lainnya. 

Bagaimana ternyata melepaskan adalah cara orang lain untuk mengalah. Bagaimana ternyata melepaskan membuat saya terlihat kalah. Bagaimana ternyata melepaskan membuat saya menangis terisak. Bagaimana ternyata melepaskan membuat beberapa orang bersorak bahagia. 

Bingung ya?
Bagi saya, melepaskan bukan tentang merelakan tapi juga cara saya mengatasi keterpaksaan.

Selasa, 06 Oktober 2020

Day 23; A Letter to You

0 komentar

Hai!

Apa kabar? Semoga kamu selalu dalam keadaan baik, sehat dan bahagia ya. Setiap hari sih saya doain kamu supaya selalu dilindungi Tuhan, selalu sehat, dan selalu bahagia. Saya sih yakin Tuhan menjaga kamu dimanapun kamu berada. Saya bingung sebenarnya mau nulis apa, secara Tuhan masih belum ngenalin kamu ke saya. Kalau gitu, saya cerita aja ya? Siapa tau kamu baca, ya kalau pun kamu gak baca saya bisa nunjukin ini ke kamu kalau Tuhan akhirnya ngenalin kamu ke saya.

Hari ini, 06 Oktober 2020, hari keduapuluh tiga saya ikutan #30DaysWritingChallenge sembari mengisi PSBB full kedua, tema hari ini "A Letter to Someone, Anyone." dan tiba-tiba saya kepikiran mau nulis surat buat kamu aja meski saya gak tau apakah ternyata kamu baca di hari yang sama saat tulisan ini saya terbitkan, atau baru saya tunjukin ke kamu beberapa bulan kemudian atau bahkan kamu gak pernah tau kalau tulisan ini ada karena waktu saya atau kamu sudah terlebih dulu habis. Saya sih tetap berharap Tuhan memperkenalkan kita sebelum waktu kita habis.

Hmmm... Saya bingung nih mau cerita dari mana, sama seperti pertemuan kita pertama nanti, mungkin saya akan lebih banyak mengamati meski bisa juga kamu akan capek denger saya ngomong karena ternyata kamu bisa langsung bikin saya nyaman untuk bercerita. 

Saat ini, kamu penasaran gak sih siapa saya? Soalnya saya penasaran kamu kira-kira siapa ya? Satu yang saya yakini, kamu adalah pilihan terbaik yang Tuhan ijinkan masuk menjadi bagian hidup saya. Semoga kamu juga menganggap saya adalah pilihan terbaik dari Tuhan ya. Meski saat ini saya punya banyak banget kekurangan, tapi saya pastikan kelak kita bisa saling menyempurnakan ya. 

Saat nulis tulisan ini, kebetulan hujan lagi turun dan playlist saya secara acak memainkan lagu Marry Your Daughter - Brian McKnight Jr. Seperti lirik lagunya, kelak kamu gak perlu nervous saat ketemu Ayah saya, beliau galak sih tapi sama saya doang, beliau pasti ada di pihak yang sama dengan kamu. Jadi, tenang aja. Ibu saya juga pasti sayang banget sama kamu, secara kayaknya yang lebih menantikan kehadiran kamu itu beliau dibanding saya.

Akhir-akhir ini, saya lagi banyak belajar. Belajar mengontrol emosi saya. Belajar merespon segala sesuatu yang terjadi di hidup saya. Saya juga masih berusaha belajar untuk terus menyayangi dan membahagiakan diri saya, agar kelak ketika Tuhan kenalin saya ke kamu, saya punya cukup kasih dan kebahagiaan yang bisa saya bagi ke kamu. Karena sejatinya, buat saya, kelak ketika saya hidup bersama kamu, saya bukan hanya mencari kebahagiaan tapi juga berbagi kebahagiaan.

Kamu lagi sibuk apa akhir-akhir ini? Saya lagi sibuk bolak-balik dapur mini saya, bereksperiman dengan bahan-bahan yang ada tentunya dengan contekan resep yang ada di online. Saya sedang menemukan kebahagian saya dari dapur, ternyata menyenangkan ya ketika hasil tangan saya disantap habis tak bersisa meski kadang ada aja anehnya hehe semoga ketika kelak sama kamu, saya udah lebih pro ya jadinya kamu gak perlu ngeliat bentuk churros saya yang abstrak atau makan sayur sop saya yang keasinan. 

Cerita saya sampai sini dulu ya. Sisanya saya ceritain langsung aja nanti saat Tuhan udah ijinkan kita bersama. Baik-baik ya. Jaga kesehatan. Semangat kerjanya!

Sampai jumpa diwaktu yang tepat. 

Salam,

Lila.

Senin, 05 Oktober 2020

Day 22; Yang Begitu Pasti

0 komentar

Sebenarnya tulisan untuk hari ini sudah saya buat dan bahkan sudah saya terbitkan. Tapi saat saya pulang menuju rumah, saya tiba-tiba terbesit satu pertanyaan untuk diri saya sendiri “Kenapa saya begitu semangat memperbaiki diri untuk menemukan belahan hati, jika nyatanya ada yang lebih pasti menghampiri yaitu mati?”

Sebelumnya saya mau kasih tau, saya gak hanya nulis tulisan ini untuk #30DaysWritingChallenge tapi juga semoga selalu menjadi salah satu pengingat untuk saya bahwa tidak ada yang lebih pasti dari kematian.

Kalau saya ingat-ingat, Tuhan pernah menegur saya, membuat saya begitu takut akan mati. Saat itu saya bahkan takut jika saya tidur saya gak akan bisa bangun lagi yang membuat saya berhari-hari tetap terjaga. Saat itu perjalanan menuju dan dari kantor selalu penuh cemas, bahkan mendengar suara deru motor mendekat saja bikin saya lemas karena saya takut tertabrak lalu mati. 

Lalu kenapa sekarang saya begitu percaya diri, bahwa yang akan lebih dulu menghampiri adalah belahan hati? Bukan mati? Di saat saya bahkan tidak tau apakah setelah menerbitkan tulisan ini, saya masih punya kesempatan untuk kembali berjumpa dengan pagi? 

Bodoh banget ya saya.

Semoga Tuhan gak hanya kasih saya kesempatan meninjau ulang kembali alasan saya memperbaiki diri. Tapi semoga Tuhan masih kasih saya kesempatan untuk benar-benar mempersiapkan diri jika kelak kematian datang menghampiri.


Day 22; Raka

0 komentar
Sejak terakhir kali aku mengetahui bahwa Raka mengirimiku pesan, Raka ternyata masih terus mengirimi pesan-pesan bermakna sama, aku pun nyatanya menjadi rutin masuk ke dalam media sosialku dan membaca pesan-pesannya. Responku pun masih sama; tanpa respon. 

Sampai pada hari ini, hatiku terasa sedikit sakit saat membaca pesan yang ia kirim hari ini. Aku terdiam cukup lama, membaca berulang kali pesan darinya, yang mungkin sebenarnya pesan yang kunantikan meski semestinya bukan pesan yang seharusnya aku ketahui di saat aku sudah berusaha sekuat hati kembali berdiri.

Raka
Sa, aku masih sayang kamu.

Berulang kali aku yakini hati untuk tidak larut hanya karena satu kalimat yang ia kirimkan. Otakku berusaha sekeras mungkin berkata “Kalaupun dia sayang sama kamu, kamu yakin dia bisa sama kamu?” berharap hatiku mendengarnya. Namun sepertinya, hatiku sudah kembali berlari menujunya. Hari ini akhirnya aku balas pesan darinya.

Me 
Aku harus gimana, Ka?

Raka
Gak perlu gimana-gimana, Sa.
Syukurlah kalau kamu udah bisa lupain aku.
Kamu baca chat aku aja ya, Sa.
Baik-baik ya.

Me
Ka, kamu tau? Sesungguhnya aku juga masih merasakan hal yang sama. Sesungguhnya aku benar-benar bertanya, aku harus bagaimana? Karena aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Ka, andai jawabanmu adalah “Kamu mau menunggu aku sebentar? Biar aku cari cara untuk menyelesaikan semuanya terlebih dahulu.” Mungkin aku akan menjawab iya tanpa ragu. Tapi, nyatanya kamu tetap menjadi dirimu yang tak pernah benar-benar menggenggam hatiku.

Aku membaca berulang-ulang pesan yang telah aku ketik untuknya. Yang akhirnya kuputuskan untuk kuhapus kembali dan mengetik pesan yang baru...

Me
Terima kasih, Ka.

Sudahlah, Sa. Mari lepaskan yang tak pernah menggenggammu. Pesanku untuk diriku sendiri.

Ditulis untuk #30DaysWritingChallenge hari keduapuluh dua dengan tema Write About Today.
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template