Sabtu, 20 November 2021

Huru Hara Hati

0 komentar
Hai, aku Sinta! Kalian masih mengingat kisahku dengan Dimas? Seperti yang sudah kalian tau, hari itu aku secara tiba-tiba mengajak Dimas membolos kelas untuk pergi berdua dengannya. Sepertinya aku gila saat itu, bayangkan dari mana asalnya keberanian itu? Seumur-umur aku hidup, ini adalah kali pertama aku mengajak teman lawan jenisku berpergian hanya berdua ditambah mengajaknya bolos kelas.

Hari itu, aku dan Dimas memutuskan untuk pergi ke salah satu mall di Bogor dengan menggunakan kereta api dan sepertinya ini adalah hal yang tepat, karena aku bisa mendengarkan banyak cerita dari Dimas selama di perjalanan. Aku tidak pernah menyangka Dimas yang sudah satu semester aku perhatikan terlihat diam dan cool memiliki frekuensi humor yang sama denganku. Sungguh aku masih ingat sekali satu tebak-tebakan garingnya...

"Sin, tau gak apa bedanya anak gajah sama anak jerapah?" Tanya Dimas dengan wajah yang cukup serius saat itu.

"Bentuknya gak sih? Gajah kan bulet, Jerapah tinggi." Jawabku tidak kalah serius.

"Salah." 

"Lehernya? Leher gajah kan pendek, leher Jerapah panjang." Aku masih dengan jawaban seriusku.

"Salah, nyerah gak?" Tanya Dimas

"Yaudah nyerah, apa jawabannya?"

"Orang tuanya." Jawabnya sambil tertawa.

Aku yang mendengar jawabannya ingin sekali rasanya pulang dan meninggalkan Dimas sendirian. "Bodo ah, Dim. Gue kira serius." 

"Yah Sin, kalau mau serius mah tadi kita gak usah bolos, ikut mata kuliah aja dijamin serius dengerin dosen kan?" Jawabnya yang membuatku tertawa.

Sesampainya di salah satu Mall di Bogor, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu di salah satu resto ayam siap saji. Kalian tau kan kalau bagian kulit crispy di ayam adalah salah satu harta yang paling berharga? Dan kalian harus tau kalau Dimas dengan suka rela tanpa paksaan memberikannya kepadaku!!! Rasanya aku langsung ingin pulang dan meminta ijin Ayah untuk menikah setelah wisuda dengan Dimas. Sulit sekali rasanya membawa pikiranku untuk tidak mengkhayal terlalu tinggi saat itu. 

Setelah kenyang, kami segera menuju bioskop untuk membeli tiket film yang sudah kami tentukan "My First Love" film romantic comedy yang bercerita tentang perjalanan kisah sepasang kekasih yang menyenangkan, lucu tapi sayangnya harus berakhir karena terpisah oleh jarak. 

"Sin, kalau lo jadi pemeran cewek tadi gitu, lo tetap bertahan LDR aja atau engga?" Tanya Dimas

"Kayaknya bertahan deh, Dim. Pasangannya manis gitu. Kalau lo gimana?"

"Gue juga kayaknya bertahan deh kalau cuma LDR beda Kota. Ini kita aja satu kota ketemunya udah kayak LDR seminggu sekali." Jawabnya dengan nada datar sekali namun berhasil membuat hatiku huru-hara.

APA MAKSUDNYA???

Minggu, 14 November 2021

Untitled 2.0

0 komentar

There's always rainbow after the rain.

Selalu saja seperti itu yang mereka katakan acap kali kukeluhkan semua yang terjadi. Selalu saja mereka gantungkan kembali harapan-harapan yang sudah hanyut bersama semangatku dengan kata-kata pemanis. 

Sabar, nanti akan ada kebahagiaan buat kamu.

Mereka bilang.

Rasanya ingin sekali aku jawab dengan satu kata "KAPAN?" namun nyatanya aku terlalu lelah untuk bertanya pertanyaan yang tak memiliki jawaban pasti. 

Aku bahkan sering memikirkan kebahagiaan sebahagia apa yang akan datang hingga saat ini aku harus bertahan dengan semua lebam di hatiku, dengan sisa-sisa kekuatan di tulangku yang perlahan-lahan meremuk? Layakkah aku tunggu?

Bagaimana jika "nanti" tidak pernah benar-benar ada untukku?

Bagaimana jika "kebahagiaan" tidak selayak sabarku?

Mengapa harus "nanti" yang kudapatkan? Tidakkah "sekarang" layak aku dapatkan? 

Mengapa baru hanya "akan"? Tidakkah "pasti" layak aku terima?

Bisakah dijelaskan? Jika tidak, bisakah diam sementara dan mendengarkan semua keluhku saja?

Senin, 04 Oktober 2021

Untitled

0 komentar

Delapan puluh delapan hari menuju pergantian tahun. 

Tahun ini rasanya waktu berjalan begitu sangat cepat, berbanding terbalik dengan hidupku yang rasanya masih jalan di tempat. Tidak banyak cerita menarik yang terjadi. Tidak banyak perubahan di diri ini. Bahkan rasanya tidak ada hal yang bisa ku banggakan, selain dari aku masih mampu "hidup" tahun ini.

Kalau diingat-ingat, tahun ini tak terasa begitu berat tapi rasanya tahun ini aku memilih menyerah pada banyak hal. Pun rasanya tak banyak kehilangan yang terjadi, tapi entah rasanya aku begitu jengah dengan sabar dan ikhlas yang menjadi nasihat mereka berkali-kali. 

Di sisa-sisa hari yang harus aku lalui tahun ini, aku sudah menurunkan harapan-harapan yang pernah aku gantungkan. Aku rasanya juga ingin menarik kembali banyak pinta yang sempat aku langitkan. Sedikit lelah, juga rasanya tak ada lagi asa yang tersisa. 

Sudahlah... sisanya mungkin memang harus aku lalui tanpa banyak kata.

Senin, 08 Maret 2021

A Month After Breakup

0 komentar
“Aku boleh dipeluk dulu gak?” Tanyaku saat ia sedang bersiap untuk pulang. Tanpa menjawab apapun ia membalas pelukanku. 

“Kita kapan lagi ketemu?” Tanyaku kembali.

“Minggu depan, ya.” Jawabnya tanpa keraguan. 

Aku melepaskan pelukanku untuk membiarkannya pulang karena malam sudah semakin larut. Nope, aku tidak pernah meminta pelukan darinya sebelum-sebelumnya. Ini adalah permintaan pertamaku yang ternyata benar-benar menjadi peluk perpisahan kami. 

Aku tidak pernah mengira bahwa dalam waktu semalam, semua bisa begitu drastis berubah. Aku tidak pernah mengira bahwa rasa kami bisa begitu cepat menguap. Aku tidak pernah membayangkan bahwa tidak ada lagi sapa pagi darimu untuk esok hari. 

A month after breakup, 
Kamu tau apa yang menyedihkan? Bahwa aku masih terbangun dengan ingatan hangat pelukmu.

A month after breakup, 
Kamu tau apa yang menyakitkan? Bahwa aku tidak sempat menghapus ingatan kita akan bertemu di minggu selanjutnya.

A month after breakup,
Kamu tau apa yang begitu aku harapkan? Bukan, bukan kenyataan bahwa aku dan kamu dapat kembali menjadi kita. Tapi kesempatan untukku mempersiapkan perpisahan ini. Aku bahkan tidak sempat untuk mengganti ingatan terakhirku tentangmu. Aku bahkan tidak sempat untuk menghapus harapku kepadamu.

A month after breakup,
Kamu tau apa yang menyebalkan? Bahwa aku tidak dapat meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu. 

Rabu, 07 Oktober 2020

Day 24; Melepaskan

0 komentar
Hari keduapuluh empat #30DaysWritingChallenge, tema tulisan hari ini adalah “a lesson you’ve learned.” 

Sebenarnya di tengah pandemi gini, banyak banget pelajaran yang bisa dijadikan pelajaran seperti sabar, ikhlas, bertahan, berjuang dan melepaskan. Dari semua itu, yang terakhir adalah “kelas” yang baru saja selesai saya ambil.

Bagaimana ternyata melepaskan tidak pernah semudah yang dikatakan orang. Bagaimana ternyata melepaskan juga tidak pernah sesulit yang saya bayangkan. Bagaimana ternyata melepaskan bisa jadi satu penyebab luka dan trauma. Bagaimana ternyata melepaskan bisa jadi satu cara menyambut kebahagiaan lainnya. 

Bagaimana ternyata melepaskan adalah cara orang lain untuk mengalah. Bagaimana ternyata melepaskan membuat saya terlihat kalah. Bagaimana ternyata melepaskan membuat saya menangis terisak. Bagaimana ternyata melepaskan membuat beberapa orang bersorak bahagia. 

Bingung ya?
Bagi saya, melepaskan bukan tentang merelakan tapi juga cara saya mengatasi keterpaksaan.
 

cinderlila's diary Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template